Saturday, February 28, 2009

Zia and the Map

Zia belajar membaca peta.

Thursday, February 19, 2009

Sesunyi nadir, selepas takbir

rinduku yang bertalu padamu
membenamkan ku dalam sunyi sepalung syahdu
menggugah gundah yang bergulana sepanjang waktu
andai aku mengerti arti sampai
tak akan ada lagi sansai

pelupuk malam yang tak pejam dalam diam
lindapkan lena lanunmu di tidurku
curi sisa waktu
bergulir tanpa ragu di empedu

pahitkan ia, lalu pahatkan di sekujur waktu
terus berdetak di jasad siang dan malam yang tak terbuang
jangan ada lagi malang
melintang di nadir-nadir yang hadir
setiap usai takbir

khusuk!
seperti apa bentuk rupamu?
apakah sunyi yang berbisik di relung hati
atau denting waktu yang bertalu di gemuruh syahdu
melepas rohku dari jasad tanpa ragu

Sunday, January 25, 2009

Jazirah Para Nabi

oleh
Samson Rambah Pasir

Memang, semua kejadian ada alasannya. Juga hikmah.

Tapi kau harus tahu, Saudaraku: tak ada lagi cinta tertemu di gurun kasih kecuali desau angin antara bebatu. Tak ada lagi mencintai untuk jaya bersama, tua bersama, mati bersama, apalagi hidup berdamping rukun dan damai. Aku atau Kau [yang adalah kita: Muslim, Nasrani, Yahudi] — besok atau lusa, entah siapa yang dulu – mungkin akan dipungkang roket, dikecai bom, disapu ranjau, disambar peluru, dihantam tank, atau oleh apa saja yang merisau di sepanjang jazirah para nabi, tanah para aulia itu.
Ah, Kawan… mungkin aku terlalu kelabu memandang persoalan. Aku berharap, aku salah. Dan sebutir embun optimistis layak merona di dedaun zaitun, kebun anggur dan pucuk kurma sepanjang jazirah membentang, bahkan di punuk unta dan ranting kaktus yang kerontang.

Keagungan sejarah lampau di jazirah ini, romansa kisah berpulun-pulun menghias perjuangan para utusan, berbagai mukjizat bedelau para rasul, kesakralan Tanah Suci dan Bait Allah tersergam sanggam, dan karya instalasi buah peradaban agung berbagai-bagai: bisa melindungimu dan tempatku berlindung, tapi karena cara kita yang bermusuhan dalam memuliakannya dapat pula menghancurkan kita. Padahal, semua unsur semestinya bergerak untuk melayani Satu Keutuhan, bukan?

[Terkadang, ketika agama dan kekuasaan menaiki kereta yang sama, angin badai selalu menerjang!]

Selalu kita merujuk persoalan pada lembaran Kitab Suci masing-masing, padahal persoalan-persoalan itu sejatinya urusan hati kita yang tamak semata serta licik penuh intrik dan sarat konspirasi. Dan lagi, sebesar apapun tubuhmu, Kawan [tubuh kita], remote-nya adalah hati yang cuma sekepal tangan itu, organ kecil yang mendrive kehidupan, termasuk terhadap Tuhan.

Berabad-abad tanah ini melahirkan agama-agama samawi, tempat suci yang sakral dan berbagai karya peradaban gemilang. Tapi kini, jazirah itu memuntahkan banyak persoalan, hamparan yang terus membatukkan derita dan selalu membersinkan sigau – jangan mendekat ke sana, sebab virusnya paling tidak dapat membuatmu influenza! Lalu aku bertanya, siapa yang mesti bertangung-jawab ketika jazirah para nabi berlumur darah dan airmata?

Mulai dari era para nabi sampai masa Kesultanan Ottoman, Perang Salib dan zaman modern: di jazirah ini berbagai umat saling memusuh berganti-ganti. Berdendam-dendam tak sudah-sudah. Padahal, membenci seperti yang dilakukan musuhmu, berarti kau kalah darinya – apapun alasan. Dan, dendam tidak pernah menyelesaikan persoalan, Kawan!

Memang, kita hanyalah pemain sekaligus korban dalam deru-deram zaman yang terus berubah. Selain Sang Maha Abadi, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Tidak siap berubah, itulah musuh zaman. Orang yang takut perubahan, itulah para penggamang.

Di tangan penguasa penggamang, agama – bahkan Tuhan — jadi banyak meminta, pemaksa, bahkan pencemburu. Padahal, agama dan Tuhan sangat dibutuhkan dalam dunia yang kian pelik sebagai pembebas dari rasa khawatir, pelindung dari rasa takut, dan pembimbing di masa gamang. Tapi yang terjadi di jazirah para nabi, rasa khawatir memiuh hati, ketakutan memilin jiwa, kegamangan meremang kuduk dan airmata menyimbah ratap.

Betapa politik, kepentingan, kekuasaan dan ketamakan manusia telah menjadi virus yang berpusu-pusu menyuruk masuk ke pembuluh agama, meng-kuda-troya-kan agama-agama. Paling tidak, susah membedakan persoalan politik dan domain agama dalam silang-sengkarut yang terjadi sepanjang jazirah berzaman-zaman.

Bulir airmata dan darah yang bersepah telah men-dawat dan me-ninta lalu menoreh lara di jazirah para nabi. Dari dulu sampai sekarang darah tumpah dan airmata berderai. Kekuasaan dan agama: yang mana satu mesti dipersalah?

Demi kekuasaan, agama telah di-atasnama-kan dan Tuhan di-berpihak-kan. Padahal Aku dan Kau sama-sama berdoa pada Yang Satu, mengadukan persoalan yang sama dengan pinta yang sama pada Yang Satu: mohon perlindungan dan keselamatan. Tapi mengapa darah masih bersepah dan airmata terus bersimbah di antara kita yang sama memohon perlindungan dan keselamatan? Di manakah Tuhan saat Dia dibutuhkan?

Ketika kekuasaan dan agama di-serumah-kan, jazirah permai menjadi sansai, padang gembala jadi gurun pembantaian. Ketika Tuhan di-berpihak-kan, persamaan jadi mubazir, kearifan menjadi pandir. Ketika kita memaksakan kacamata kita untuk menghakimi nilai di luar diri kita, semua tampak seperti musuh.

Ketika umat sebuah agama kehilangan feminisme [kelembutan, hanif] terhadap umat agama lain, saat itulah humanisme terkapar dan pluralisme menggelepar. Padahal, agama hadir mengusung humanisme, pluralisme, emansipasif, bahkan rahmatan lil alamin.

Paradoks keberagamaan bukan cerita baru sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Dengan alasan penyebaran agama misalnya, terjadi ekspansi teritorial yang, diakui atau tidak, membuka ruang dan peluang pada penistaan kemanusiaan, karena ianya – ekspansif itu – beda tipis dengan perebutan atau penaklukan wilayah. Dalam memperebutkan Kota Suci Yerussalem, misalnya, Perang Salib telah menumbangkan korban jiwa tak terkira. Dan sebelum itu, penaklukan Asia Kecil dari Byzantium oleh Ottoman juga demikian. Dan sebelumnya lagi, upaya penegakan agama samawi di Eropa, jutaan manusia penganut paganisme [agama lokal Eropa] telah binasa. Begitu jugalah yang terjadi di era modern: ribuan manusia terpungkang roket, terperangkap ranjau, dikecai bom, dihantam tank, dilanggar peluru. Memang bukan perang agama, tapi siapa yang dapat membuktikan bahwa agama dan Tuhan tidak dibawa-bawa?

Dalam banyak kejadian, Tuhan sering dihadirkan sebagai pembenar atas tindakan-tindakan kekerasan. Radikalisme atas nama agama. Pemahaman keagamaan dan ketuhanan yang benar menjadi barang mewah. Di sepanjang jazirah para nabi, sejarah kekerasan selalu berulang.

Saudaraku, mengarifi sejarah bukanlah barang mewah. Mari belajar dari kisah yang terhampar di jazirah para nabi. Di atas semua itu, ajaran para nabi yang lahir di jazirah itu, mari imani dan jadikan pedoman hidup dan amalan. Sementara temperamental pemberang dan peradang khas padang pasir yang selalu menodai sejarah perjalanan agama, mari buang ke longkang, jangan biarkan menjejak pertiwi.

Mari mencintai untuk jaya bersama, tua bersama, rukun dan damai bersama. Aku dan Kau – apapun agama yang dianut — hidup berdamping membangun negeri. Percayalah, embun optimis layak merona di dedaun hijau sebentang khatulistiwa. Longgarkan buhul-jemarimu yang mengepal dan turunkan intonasi suaramu yang meninggi serta redakan emosimu yang membuncah. Mari berpeluk-genggam dalam cinta dan kasih – apapun agama yang dipeluk. Bersatu dalam ilahi, tanpa mempersoalkan bagai mana lidah kita melafaskan-Nya, dan dengan kata apa kita menamai-Nya.

Berubahlah…! ***

Sastrawan, Bermastautin di Batam
Sumber: Batam Pos, Ahad 25 Januari (seligi) http://www.batampos.co.id

Monday, January 19, 2009

Surat buat Aesya

sebenua doa telah kukirimkan
namun
asap hitam dan peluru
masih lekat pekat di tanahmu
pun air mata darah
kini tumpah
luah jadi nanah
namun
perang tak jua sudah


Aesya Layla,
tulipe yang sempat kau kirim
masih merekah di dada
tetap merah
semerah darah ratusan ayah
yang gugur membela marwah
semerah darah ratusan kanak
yang lepas dari pelukan ibu
semerah darah ratusan ibu
yang ditangkup segunung pilu


Aesya Layla,
tunggu aku di gerbang gaza!


Perth, 19 Januari 2009

Thursday, January 1, 2009

tasbih kembang api

sayap malam sibak diamku yang kelam

tikam jantung pedih sembilu

wahai,

jangan tebas tasbih raguku

galau hijriah luncaslah pergi

masuki detik dengan bismillah

kucium aroma daun kemangi

yang kau sisip di pinggang matahari

fajar alaf baru menyapaku

wahai, alangkah aduhai

semoga hidup jauh dari sansai

‘’jangan terlena warna-warni kembang api

perciknya hanya sebatas fatamorgana’’

hujahmu di pelataran malam yang diam

namun kumau hidupku bagai kembang api

memercik indah bak pelangi

hingga tak ada lagi api

baranya hinggap ke palung sunyi

ah, sudahlah

jangan bertengkar lagi

tahun lalu sudah lewat

mari kita bersiap sigap

sebentar lagi kapal akan melempar sauh

perjalanan masih jauh

Perth, penghujung tahun

Friday, December 26, 2008

Missing to be on air

This morning, I fell missing to be on air again. Before moving to Perth, I worked for RTV, a local TV station in Riau. My jobs ranged from presenting news and other more in-depth programs. I was a presenter of news program named Detak Riau and presented some other programs like Interactive Dialog (Berita Pilihan 6) and a current affair program called Dari Hati ke Hati. Every day, I did jobs related to broadcasting. Beside working on the screen, I was also the Vice Manager of Program Dept. who was responsible to make sure that all programs go online on the time. I like this job very much and I enjoyed doing my day.

The problem is that today, I did not know why, I misses the day have been passing by. Since last Feb, I and my Son have been staying here in Perth to accompanying my husband who is doing a Master at Murdoch Uni. Consequently, my life has to be changed. New place, new experiences. I love my life now, but some time I miss the days have been passing by.

But, I understand that I have to patient. I know that I am lucky woman. When I am back to Pekanbaru next July, I will join back to my company. The CEO of Riau Pos Group, Mr Rida K Liamsi has offered me a chance to come back to the Riau Television.

Tuesday, December 23, 2008

Jangan anggap remeh kesemutan

Jangan pernah menganggap remeh kesemutan. Kesemutan pada waktu lama akan berdampak buruk terhadap kesehatan anda. (la iyalah.....) he he. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidup saya kesemutan terus menerus sampai satu minggu. Paling-paling sebelumnya kalau kesemutan hanya jika salah tidur karena posisi tangan yang salah, dijepit di paha atau menelungkup. Namun kesemutan yang saya alami seminggu terakhir adalah cedera akibat melakukan pekerjaan fisik secara berulang-ulang sehingga menyebabkan trauma fisik.

Nah, bagi anda para ibu rumah tangga, jangan menganggap remeh jika tangan anda kesemutan dalam waktu lama. Pekerjaan seperti memeras pakaian, mengulek sambal atau sifatnya menekuk pergelangan tangan secara terus menerus padahal tak biasa melakukan pekerjaan itu bisa menyebabkan terjepitnya saraf medianus. Di pergelangan tangan manusia ada semacam lekukan tempat melintasnya saraf ke telapak tangan, disebut saraf karpal. Di dalamnya ada saraf dan pembuluh darah. Jika sarafnya terjepit di dalam terowongan karpal inilah yang menyebabkan kesemutan pada seluruh jari kecuali kelingking. Penyakit ini disebut Carpal Tunnel Syndrome (sindrom terowongan karpal).

Pada awalnya saya menganggap remeh kesemutan yang terjadi pada tangan kanan saya. Namun setelah satu minggu, saya mulai khawatir kalau ada masalah dengan kesehatan saya. Saya pun bertanya ke ‘’mbah google’’ di internet (saya dapat istilah ini dari bang Ade Adran Sahlan). Ternyata ada banyak hal yang bisa memicu kesemutan antara lain; tumor jinak akibat desakan kelenjer, kecelakaan, diabetes, hipotiroid, dll. Tidak hanya itu orang yang pekerjaannya banyak menggunakan gerakan pergelangan tangan seperti operator komputer dengan posisi mouse yang salah juga beresiko mengalami penyakit ini. Alamak, perasaan saya mulai bermain-main, jangan-jangan ada tumor dalam tubuh saya, atau saya kena penyakit ini, itu. Wah, dari pada repot dengan perasaan saya sendiri, padahal saya tidak mempunyai ilmu sama sekali di bidang itu(kedokteran), sayapun membuat janji untuk konsultasi dengan dokter. Di sini (Australia) untuk kasus yang tidak emergency kita harus buat janji dulu dengan dokter. Paling cepat jika kita mendaftarnya hari ini, besok baru bisa bertemu dengan dokter. Saya jadi ingat, kalau di pekanbaru, buat janji dengan dokter ‘’tak pakai lama’’, asalkan mau mengantri. Di sini mengantrinya di rumah sendiri, bukan di rumah sakit. Jadi kita sudah tahu jam berapa mesti datang sesuai dengan urutan antri. (Bingungkan? Saya juga bingung)


Tibalah saatnya saya bertemu dengan dokter. Dokter Jones namanya. Orangnya ramah dan memberi waktu seluas-luasnya kepada saya untuk berkonsultasi. Saya jadi ingat (untuk kedua kalinya), dulu ketika saya membawa anak saya ke salah satu rumah sakit swasta di pekanbaru, dokternya buru-buru sewaktu berkonsultasi. Jika saya masih tanya ini dan itu, dokter gelisah dan langsung bilang, ‘’60 ribu’’. Oh my godness!

Dokter Jones, sebelum saya berdiri dan pamit, akan terus menerangkan setiap pertanyaan yang saya ajukan. Alhasil, dokter menyarankan saya untuk memakai penyangga dan memastikan apakah penyangga itu tersedia di apotik terdekat dengan klinik itu dengan menelepon pegawai apotik. Setiap resep yang diberikan dipastikan apakah tersedia di apotik terdekat, jika tidak dokter akan mencari jalan keluar. Saya jadi ingat(untuk ketiga kalinya), sampai tengah malam mencari obat untuk ponakan saya dari resep dokter di salah satu rumah sakit swasta di pekanbaru. Hampir seluruh apotik saya jalani waktu itu, ternyata obatnya tak tersedia. Lalu saya bertanya, untuk apa resep ini?

Untung bagi saya, penyangga untuk tangan kanan saya tersedia di apotik terdekat dengan hanya berjalan kaki sekitar 4 menit. Disamping penyangga dokter juga memberikan vitamin untuk saraf dan penghilang rasa sakit. Hari terus berlalu. Kini tangan kanan saya memakai penyangga. Dokter juga memberikan saya surat izin istirahat kerja selama 7 hari. ‘’Kesemutan oh kesemutan, kenapa jadi begini.’’ Hukkk hukkk hukkkk’’


Tuesday, December 9, 2008

Zia's funny strories

Inilah cerita lucu dari Zia..
Cerita 1. A lion king and a snake
Cerita2. A robot an people
hahahha

Monday, November 24, 2008

Sekilas Western Australia

Western Australia (WA) adalah State paling luas di dunia (total 2,6 juta km persegi). Saking luasnya, salah satu Shire (setingkat Kabupaten) di WA, yaitu Shire of East Pilbara juga merupakan Shire terluas di dunia. Luas 'kecamatan' ini sekitar 80% luas Sumatera dan hampir 3 kali lipat luas Pulau Jawa. Wajar saja (walaupun dilebih-lebihkan) pada logo pemerintah WA terlihat negara bagian ini luasnya seperempat bola dunia.


Luas daratan yang masif ini membuat kepadatan penduduk kurang dari satu orang per kilometer persegi. Bandingkan dengan Pulau Jawa yang luasnya seperduapuluh WA dan kepadatan penduduk 980 orang per per kilometer persegi.

Perth dan Fremantle adalah kota-kota utama di WA. Perth adalah ibukota negara bagian (state). Kota ini bersih, indah dan aman, dengan bangunan-bangunan yang memadukan artitektur kuno dan modern. Sedangkan Fremantle adalah kota pelabuhan yang tidak bisa dipisahkan dari Perth. Fremantle juga dipenuhi bangunan-bangunan tua khas negara barat. Di kota kecil ini anda dapat menemukan banyak tempat bersantai sambil minum kopi di trotoar atau meresapi lezatnya fish 'n chips (ikan dan kentang goreng) atau makanan sea food di pinggir laut.

Kedua kota tersebut memiliki reputasi gemilang sebagai tujuan wisata dan tempat hidup - antara lain karena keindahan, keamanan, ketertiban, kebersihan, dan keramahan penduduknya. Perth misalnya, menempati ranking 21 kota terbaik untuk hidup di dunia (menurut Mercer Consulting). Namun demikian, reputasi kedua kota tersebut belum mampu membuat mereka sebagai tujuan wisata utama di WA.


State ini dianugerahi banyak lokasi tujuan wisata. Selain wisata kota, sungai dan pantai di Perth dan Fremantle, tujuan wisata utama kebanyakan berada jauh dari kota-kota besar. Mereka menawarkan eksotisme pemandangan pegunungan, pantai, dan kawasan pedalaman untuk anda. Di WA, kawasan pedalaman disebut Outback. Outback inilah sesungguhnya tujuan wisata utama di WA.

...to be continued...


Sunday, October 19, 2008

Zia memanggul jangkar

Ini video Zia Al Khair Nailian mencoba memanggul jangkar kapal. Kuat nggak yaaaaa???

Monday, October 6, 2008

Gurun Pinnacles Western Australia

Satu diantara wisata outback utama yang dapat anda kunjungi di WA adalah the Pinnacles Desert. Pinnacles terletak di Shire of Dandragan, merupakan gurun yang dipenuhi ribuan pilar-pilar batu kapur alami, menyembul dari gurun pasir. Ukuran batu-batu tersebut bervariasi, dari seukuran tikus hingga yang yang lebih tinggi dari atap rumah anda. Sebagian 'bersisik' tajam seperti gergaji, sebagian berujung runcing, sebagian tumpul. Pertama tiba di sini, boleh jadi anda akan diliputi perasaan aneh yang membuat berdiri bulu roma. Pasalnya, batu-batu itu sepintas mirip kuburan massal dengan ribuan nisan terpancang kokoh. Tapi kemudian perasaan anda segera berubah. Dominasi kuning terang pada batu dan pasir memberi kesan seolah anda berada di planet asing tanpa penghuni, seperti dalam film-film fiksi ilmiah.


Foto: discoverwest

Foto: kunaifi


Pinnacle Desert adalah bagian dari Nambung National Park. Menurut Department of Environment and Conservation WA (DECWA), taman nasional seluas lebih 17 ribu hektar ini juga meliputi pantai, dan hutan pohon Tuart yang rindang. Pada bulan Agustus hingga Oktober (musim semi), di hutan Tuart bunga-bunga mekar. Kombinasi kuning, merah dan hijau menyuguhkan pemandangan yang tak mudah anda lupakan. Jika beruntung, anda akan bertemu dengan kawanan emu dan kangguru liar di sini dan ‘bercengkrama’ dengan mereka.

Nama Nambung diberikan oleh penduduk asli setempat (masyarakat Aborigin). Awalnya mereka memberi nama Nambung pada sebuah sungai di kawasan tersebut. Nama sungai ini kemudian dipakai menjadi nama taman nasional tersebut. Dalam bahasa Aborigin, Nambung berarti “dibengkokkan” atau “dipelintir.”

Menurut DECWA, orang Eropa telah memasukkan Pinnacles Desert ke dalam peta sekitar tahun 1658. Namun hingga akhir 1960-an, Pinnacle Desert relatif tidak dikenal, sampai saat the Department of Lands and Surveys negara bagian WA menjadikan kawasan ini sebagai taman nasional. Kini, sekitar 150 ribu pengunjung mendatangi Pinnacles Desert setiap tahun.


Masih menurut DECWA, batu-batu kapur Pinnacles terbentuk secara alamiah. Asal mulanya adalah dari kerang laut pada masa ketika laut sangat kaya dengan kehidupan laut. Melalui proses ribuan tahun, kerang laut pecah menjadi pasir yang kaya kandungan kapur. Pasir kapur ini lalu hanyut bersama ombak ke daratan, ditiup angin dan membentuk bukit pasir yang tinggi dan berpindah-pindah. Jika musim dingin (winter) tiba dan frekuensi hujan tinggi, unsur asam pada hujan melarutkan Kalsium Karbonat yang kemudian meresap ke dalam pasir. Saat bukit pasir mengalami kekeringan di musim panas (summer), komposisi tersebut mengendap membentuk sejenis semen, bercampur dengan pasir, dan secara perlahan membentuk batuan kapur. Gurun pasir lama-kelamaan menjadi tipis akibat dikikis air dan angin. Bagian-bagian yang lebih keras bertahan, meninggalkan Pinnacles alias pilar-pilar batu. Pembentukan Pinnacles adalah proses ribuan tahun. Sekitar enam ribu tahun lalu, temuan arkeologi membuktikan bahwa kawasan ini pernah menjadi pemukiman suku Aborigin.


Pemerintah WA mengelola Pinnacle Desert dengan baik. Berbagai fasilitas umum dibangun seperti toko souvenir, toilet, tempat parkir dan sebagainya. Sentuhan modern pada fasilitas umum dengan konsep sustainable alias ramah lingkungan pun diberikan. Bangunan-bangunan dirancang dengan konsep "passive solar design" (menggunakan sinar matahari untuk menghangatkan/mendinginkan ruangan). Energi surya juga dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Bahkan, teknologi pengelolaan dan daur ulang air pun dibangun di sini..


Perjalanan ke Pinnacle tidak kalah seru. Dengan jarak sekitar 250 km dari Perth, perjalanan anda akan memakan waktu sekitar tiga jam. Tapi jangan khawatir menjadi bosan, sebab anda akan mulai merasa berwisata saat perjalanan dimulai. Jalan-jalan mulus membuat anda nyaman duduk di dalam kendaraan. Saat meninggalkan Perth, anda merasakan kota semakin sepi. Namun bentuk rumah-rumah penduduk tidak berubah; khas Australia, beratap dan berpagar agak rendah dengan garasi ukuran besar dan dinding berpola batubata tanpa plaster.

Salah satu tipe umum rumah di Australia (Foto: pushpullbar)


Semakin jauh meninggalkan kota anda semakin dalam memasuki outback. Dari dalam kendaraan anda akan menyaksikan hamparan lanskap khas Australia, terdiri dari semak-semak (bush), padang-padang rumput, lembah, bukit-bukit kecil, juga danau-danau indah. Di beberapa tempat terdapat perkebunan Lavender. Bunga yang sering dijadikan bahan-baku produk kecantikan tersebut memiliki warna putih bercampur ungu, kontras dengan hijaunya padang rumput di sekelilingnya. Paduan warni ini memberi anda kesan damai, juga romantis.


Anda juga akan menemukan puluhan peternakan sapi, domba, dan kuda sepanjang jalan. Gampang mengetahui lokasi peternakan. Biasanya ditandai dengan padang rumput luas, tapi bersih. Di tengahnya terdapat rumah pemilik peternakan (farmer), lengkap dengan gudang peralatan. Peternak domba biasanya memiliki beberapa kuda dan anjing. Bersama kuda Australia yang terkenal kuat dan besar dan dibantu anjing-anjing terlatih, farmer dengan mudah menggiring ratusan domba menuju kandangnya. Secara berkala, bulu-bulu domba dicukur, lalu dijual. Oleh pabrik, bulu domba dijadikan pakaian berkualitas tinggi. Dengan cara demikian, farmer dapat hidup makmur.


Sebuah peternakan domba di Western Australia (Foto: fmft)


Satu lagi pemandangan menarik menuju Pinnacle, yaitu Emu Downs Wind Farm (EDWF). EDWF adalah pembangkit listrik tenaga angin skala besar yang mulai beroperasi 2006. Menurut Griffin Energy, pemilik Emu Downs, wind farm miliknya adalah nomor dua terbesar di Western Australia setelah Albany Wind Farm, dan nomor empat di Australia. Bersama Stanwell Corp. wind farm ini menghabiskan A$180 juta (sekitar 1,3 Triliun Rupiah). Dengan kapasitas 80 MW, turbin-turbin setinggi 70 meter itu mampu menghasilkan listrik untuk sekitar 62.000 rumah. Bandingkan dengan PLTA Koto Panjang yang memiliki kapasitas 114 MW, dan biaya sekitar 2,8 Triliun (Sumber: iselantang). Listrik yang dihasilkan EDWF dibeli Synergy, perusahan retail listrik milik pemerintah WA. Sebagian besar digunakan mengoperasikan instalasi penyulingan air laut terbesar di WA.


Emu Downs Wind Farm, Western Australia (Foto: puregreen)


Setelah cukup penat menempuh perjalanan dan dilanjutkan dengan mengarungi gurun Pinnacles, anda dapat rehat di Jurien Bay, sebuah pantai koral yang terletak tidak jauh dari sana. Jika suka berenang dan memancing, anda bisa lakukan di Jurien Bay. Siapa tahu anda pulang membawa Rock Lobster raksasa khas Jurien Bay.


Jalan-jalan ke Pinnacle Dessert bukan hanya menyaksikan keajaiban geologi, tapi juga membawa anda ke masa lalu sekaligus ke tempat yang "asing." Satu tips yang tidak boleh anda lupakan saat merencanakan kunjungan ke Pinnacle Dessert, jangan datang di musim panas dan dingin. Jika lupa, anda akan terpanggang matahari atau beku di luar sana. Outback bukan tempat yang ramah jika anda datang di musim yang salah.


Untuk melihat lebih banyak foto-foto di Pinnacle Dessert, silahkan klik di sini dan sini.


Saturday, September 6, 2008

ranum ramadhan


ranummu ramadhan

kuinginkan jatuh di putik rinduku

rupawan dalam genggaman

tasbihku:

‘’ramadhan jangan enggan berkawan

bawa aku dalam nikmat tak terlawan’’

Wednesday, August 13, 2008

pucuk pagi berselimut salju

di pucuk pagi berselimut salju

aku rindu pada embun

bergelayut di rimbun daun

menimbun diri

di wewangian hijau

maung kampung tercium di rantau

kusuruk risau di ketiak bumi

seksofonmu mengajakku menari

dengan gegerak kaki setengah berlari

tiba-tiba dari sunyi yang tercurah

di pucuk dedaunan yang gerah

menyembul harap yang tersurah

dalam kitab-kitab purba merekah

huruf-huruf ajaib mendesah

aku teringat kisah sang petapa

ketika takut menusuk

dia berikan senyum terindah

di goa-goa basah

pun ketika maut menjemput

ragu dan nestapa luput

hanya ada jejak kaki

mengarak pergi

Perth, Agustus 2008

(masih ada bait yang tersembunyi)

Monday, July 28, 2008

Sebelum Hujan di Musim Panas

puisi Reiner Maria Rilke

Tiba-tiba, dari semua hijau di sekitarmu

Sesuatu yang kau tak tahu, hilang

Kau rasakan ia merayau di dekat jendela,

Di puncak sepi. Di pinggir hutan

Kau dengar siualan nyaring burung plover

Mengingatkanmu akan seseorang di Saint Jerome:

Begitu banyak sunyi dan ingin yang datang

Dari sebuah suara

Tercurahlah sebuah keinginan yang kuat

Tembok dengan lukisan purba,

Meluncur, menjauh, begitu jauh

Seakan-akan mereka tak ingin mendengar apa yang kita katakan

Terpantul ke permadani-permadani kusam: dingin

Waktu suram yang panjang di masa kecil memancarkan cahaya buram

Ketika kau begitu takut

Translated by Murparsaulian dari Before Summer Rain

Menyebut nama Reiner Maria Rilke saya selalu teringat maha guru saya Hasan Junus. Opung HJ, begitu sapaan renyah saya pada sosok jenius yang telah merambah dunia sastra seantero dunia itu. Opung HJ lah yang memperkenalkan saya dengan karya-karya sastra dunia termasuk Reiner Marie Rilke. Beberapa hari ini saya rindu berdiskusi dengan opung HJ sang paus sastra itu. Untuk mengobati haus diskusi saya, saya menelisik beberapa puisi Reiner Maria Rilke, penyair berdarah Jerman itu. Salah satunya berjudul Before Summer Rain yang saya terjemahkan dalam bahasa sastra saya yang masih amat sederhana. Puisi ini diterjemahkan oleh Stephen Mitchell dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris. Bisa diakses di http://www.geocities.com/paris/leftbank/4027/

Wednesday, July 23, 2008




Bukannya terasing dari musim-musim, mengutip Kahlil Gibran. Hanya ingin menantang deru angin dan hujan yang membadai di tepi pantai.

(Suatu hari di bulan Juni 2008, Rokingham, Westeren Australia)


Wednesday, July 16, 2008

sedanau tembusu

aku pagi, katamu

akulah malam yang menikam

hujahku di belantara kata benakmu

yang remuk redam dalam diam

siangkan aku dalam hari tanpa mentari

pintamu yang tak bisa kulunasi

lalu pergimu

jadi duri

dalam cambuk waktu

terus melecut diri

sedanau apakah dalam dukamu

adakah sesampai lambai

yang sangsai di bilur taumu yang ragu?

(to be continued)

Perth, 15 Juli 2008

Tuesday, July 8, 2008

Karya Terserak


Setujukah anda karya tulis merebak hingga ke seterata benua? Saya sangat setuju dengan pernyataan ini. Dan kesetujuan saya bertambah ketika membuka katalog pustaka Murdoch University. Saya terkesima. Awalnya saya hanya mengetik beberapa nama penulis, apakah ada bukunya di pustaka ini atau tidak. Ternyata sejumlah nama yang saya ketik judul bukunya tertera di monitor komputer.



Saya ketik Sutardji Calzoum Bachri, langsung keluar beberapa judul bukunya antara lain; O Amuk Kapak dan Isyarat. O Amuk Kapak adalah kumpulan puisi dan Isyarat adalah kumpulan Essay. Lalu saya ketik Chaidir, keluar pula dua bukunya bertajuk Berhutang pada Rakyat dan Panggil Aku Osama. Hal yang sama terjadi ketika saya mengetik Edyanus Herman Halim. Bukunya berjudul Menangkap momentum otonomi daerah : menepis ego kedaerahan, memacu kemandirian ekonomi rakyat ada di di antara deretan-deretan buku yang terdapat di pustaka ini. Saya juga menemukan buku bertajuk Air mata 1824, buku ini adalah kumpulan sajak dan cerpen penulis Melayu serantau yang diterbitkan yayasan pusaka Riau. Tajuk buku ini diambil dari judul sajak Syaukani Al-Karim. Saya juga melihat sepotong sajak saya di buku itu.

Masih banyak buku-buku penulis di tanah air yang saya temukan di pustaka Universitas Murdoch yang terletak di westeren Australia ini. Tentu saja tak bisa saya sebutkan satu persatu. Betapa dunia yang luas ini begitu berkompromi. Karya-karya tulis terserak kemana-mana. Kadang siempunya karya belum sampai, sedang karyanya sudah sampai. Ah, indahnya menulis! So, selamat menulis untuk semua. Well done!

foto: courtesy raudah :http://mraudahjambak.blogspot.com



Thursday, July 3, 2008

Aroma gurun dan taman yang anggun



*Suatu hari di Whiteman Park

Perlu waktu 30 menit jika mengandalkan dua kaki untuk sampai ke pusat Whiteman Park. Namun jika menggunakan kendaraan roda empat tentu lebih cepat, tidak kurang dari 10 menit. Pertanyaan yang menggoda. Kenapa mesti berjalan kaki? Bukankah lebih mudah naik mobil yang sudah disiapkan oleh pengelola? Jika ingin menggunakan servis antar jemput cukup dengan menelpon di pintu masuk lewat intercom yang sudah disiapkan. Tanpa menunggu lama, bus jemputanpun datang. Jemputan inipun gratis sama halnya jika masuk ke kawasan ini, namun anda mesti merogoh kantong untuk beberapa fasilitas lainnya.

Ada beberapa pilihan yang bisa dijelajahi di kawasan yang namanya diambil dari Lew whiteman, seorang figur penting yang konsen mengoleksi artefak di Westeren Australia. Kawasan tersebut antara lain; The wildlife (taman margasatwa), The Mussel pool (area berenang) yang terdapat di sebelah timur dan barat, The tractor museum (aneka ragam traktor tua), water play ground (permainan air bawah tanah), motor museum (aneka motor tua), community art centre (pusat souvenir) dan pilihan-pilihan wisata alam lainnya.

Kembali kenapa ada pilihan berjalan kaki. Dengan menyusuri jalan lebih kurang sepanjang 3 kilometer akan bisa menikmati landscape benua australia bagian barat ini. Di sisi kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh pohon akasia, palm atau oak dan semak belukar yang mengering dan aroma gurun khas australia. Gurun yang tentu saja berbeda dengan gurun sahara yang didominasi pasir, namun gurun di australia adalah gurun semak belukar dengan tanah-tanah merekah. Tanah-tanah yang memerah.

Selain berjalan kaki, ada juga pilihan bersepeda yang tidak kalah menarik. Tidak hanya membuat tubuh sehat, pikiranpun ikut sehat dan segar di tengah kicauan burung dan hamparan tetumbuhan yang daun-daunnya berguguran di musim dingin.

Di kawasan taman margasastwa (The Wildlife) punya keunikan tersendiri. Unik karena bisa bersentuhan langsung dengan fauna ada di dalamnya. Jika selama ini anda hanya melihat kangguru dari jauh, di wildlife fauna asal australia itu bisa disentuh bahkan bisa digendong. Ratusan kangguru berkeliaran dan anda di tengahnya. Tentu dapat anda bayangkan sensasinya. Binatang itu meloncat-loncat girang. Apalagi sang betina yang membawa anak di kantong lucunya.

Tidak hanya kangguru, masih banyak koleksi binatang lainnya, semacam; koala, emu, burung onta, dan lain-lain. Jika ditotal ada sekitar 2 ribu koleksi binatang yang bisa disentuh. Belum lagi onta yang bisa ditunggangi. Walaupun kadar berpetualangnya tidak sempurna karena sang onta didampingi penjaga.

Menariknya lagi ada sebuah kawasan yang sengaja dihadirkan sebagai kawasan pertanian. Ada sapi, kuda, domba, lengkap dengan anjing di perkebunan. Setiap dua jam sekali ada atraksi dari para petani tersebut. Bagaimana menggunduli bulu domba dan memerah susu sapi akan diperagakan para petani dengan gaya kocak dan menarik. Melihat atraksi ini terkesan alangkah akrabnya binatang-binatang peliharaan itu dengan tuannya. Betapa mereka telah menyatu dalam kesehari-harian.

Ingin tahukah anda bagaimana menggunduli bulu domba? Ternyata menggunakan mesin pencukur yang mirip dengan pemangkas rambut yang digunakan para tukang pangkas. Menurut penuturan Jack lelaki paruh baya yang sudah bekerja di whiteman park sejak puluhan tahun lalu, pencukur ini sangat tajam. Namun di tangan para pencukur bulu domba, alat pencukur itu begitu mudah digunakan. Selain alat pencukur juga disediakan alat penyeimbang seperti per. Alat ini tali mirip huruf u yang bisa naik turun. Di tali inilah dada diletakkan dengan cara dijepitkan di dua ketiak. Proses naik turun dalam pengerjaan mencukur bulu domba akan diatur oleh tali huruf u ini.

Petani mencukur bulu domba (Foto:kunaifi)

Tidak jauh dari kawasan Jack dan para binatang kesayangannya ada kawasan kelinci yang khusus disediakan untuk anak-anak. Tidak heran jika kawasan ini dipenuhi anak-anak yang sibuk memberikan makanan pada kelinci yang gemuk-gemuk.

Kesannya pengelola sengaja menghadirkan kedekatan pengunjungnya dengan alam. Kawasan yang merupakan taman cadangan konservasi ini selalu ramai dikunjungi, apalagi di hari libur. Di areanya seluas 4.300 hektar begitu banyak manuskrip alam yang bisa dinikmati.

Perth, Juli 2008

Thursday, June 26, 2008

sesidik jemari lelaba biru

sidik jemariku tersangkut

di bebatuan berkabut

seperti cengkaraman elang

tak lekang walau dipanggang

matahari garang

pepasiran bertaburan

kutulis rindu di butirmu

lugu dalam waktu bertalu

ah laba-laba biru

menenun sarang di dadaku

(to be continued)

Perth, Juni 2008

Monday, June 23, 2008

Musim di benak Ulan

Pohon-pohon yang dulu ranggas daunnya mulai tumbuh satu-satu. Sudah hampir dua bulan musim dingin kini. Pohon-pohon itu tak lagi mengering. Siraman hujan telah membayar lunas kekeringan musim panas. Pun musim gugur telah berlalu. Pemandangan daun-daun merah yang berserak di jalan-jalan mulai berubah dengan sebentuk rupa pepohonan yang mulai hijau, namun masih malu-malu. Suhu dingin masih mematahkan ingin daun-daun yang hendak tumbuh. Pepohonan itu masih bersabar menunggu musim berlalu. Biarlah waktu yang akan menghantarkannya kepada wujud semula dengan dedaunan rimbun dan bebunga yang mekar sempurna. Sudah ditakdirkan Tuhan, benua ini memiliki empat musim.

Pohon Oak (Photo courtesy: kunaifi)

Dengan sendirinya akan berotasi; musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. Musim panas akan berganti dengan musim gugur yang bertugas menggugurkan dedaunan dan bebungaan. Setelah itu udara akan berubah ke skala agak dingin, seakan hendak melatih mahluk di dalamnya untuk bisa bertahan di musim berikutnya yaitu musim dingin. Selanjutnya suhu benar-benar dingin, membekukan dedaunan dan bebungaan, manusia saja bila tidak berikhtiar memakai baju penghangat yang disebut mantel atau jaket tebalpun bisa beku. Seterusnya secara perlahan udara yang dingin akan semakin berkurang. ‘’Sabar sajalah wahai pepohonan, daun-daunmu akan tumbuh sempurna di musim semi nanti. Musim yang kunanti. Masa bebunga merekah dan dedaunan menghijau’’. Ulan berbisik sambil melihat ilalang yang bergoyang.

Di musim dingin dengan dedaunan dan bebungaan yang masih malu-malu, Ulan menelisik jenis pepohonan. Kebanyakan akasia dan palm. Akasia tentu saja banyak di kampung halamannya. Sedangkan palm di sini adalah palm taman, bukan palm oil atau kelapa sawit. Kenapa setiap melihat palm, Ulan selalu ingat palm oil yang selalu dilihatnya di kanan dan kiri jalan dalam perjalanan menuju kampung halamannya. Kelapa sawit, yang meluluhlantakan hutan, mengeringkan lahan dan menghisap humus tanah. Tidak hanya itu, setiap hari truk-truk melebihi tonase akan mengangkut jutaan tandan kelapa wasit yang menghancurkan jalan-jalan. Lobang-lobang menganga di sepanjang jalan, seperti ngangaan luka di hati para warga di sekitarnya karena mereka hanya bisa menjadi buruh-buruh kebun. Hidup mereka tak berubah dari tahun ke tahun. Setiap waktu sawit disuling menghasilkan berton-ton minyak, sedang mereka masih kesulitan untuk bertanak. Tak salah jika penyair Aris Abeba mengutipnya dalam puisinya, kira-kira begini kutipannya:

Tinggal sebotol minyak untuk bertanak

Sedangkan negeri ini negeri minyak


Remuk redam rasanya dada Ulan bila mengingat hutan yang tinggal sejemput di kampung halamannya. Kembali ia memandang musim, dingin masih menusuk. Burung gagak masih mengoak-ngoak. Tak ada reranting yang patah di sini. Pun hutan di jejauhan sana tersergam lebat. Seekor burung kecil dengan ekor panjang yang bergoyang-bergoyang mematuk ujung sepatunya. Ada sebiji jagung di situ. Dia tak tahu apa nama burung itu. Sangat banyak burung-burung yang hidup leluasa di kota itu. Tak ada yang mengganggu. Burung-burung berterbangan leluasa. Ulan beku dalam cuaca. (bersambung)