Saturday, February 28, 2009
Sunday, January 25, 2009
Jazirah Para Nabi
Samson Rambah Pasir
Memang, semua kejadian ada alasannya. Juga hikmah.
Tapi kau harus tahu, Saudaraku: tak ada lagi cinta tertemu di gurun kasih kecuali desau angin antara bebatu. Tak ada lagi mencintai untuk jaya bersama, tua bersama, mati bersama, apalagi hidup berdamping rukun dan damai. Aku atau Kau [yang adalah kita: Muslim, Nasrani, Yahudi] — besok atau lusa, entah siapa yang dulu – mungkin akan dipungkang roket, dikecai bom, disapu ranjau, disambar peluru, dihantam tank, atau oleh apa saja yang merisau di sepanjang jazirah para nabi, tanah para aulia itu.
Ah, Kawan… mungkin aku terlalu kelabu memandang persoalan. Aku berharap, aku salah. Dan sebutir embun optimistis layak merona di dedaun zaitun, kebun anggur dan pucuk kurma sepanjang jazirah membentang, bahkan di punuk unta dan ranting kaktus yang kerontang.
Keagungan sejarah lampau di jazirah ini, romansa kisah berpulun-pulun menghias perjuangan para utusan, berbagai mukjizat bedelau para rasul, kesakralan Tanah Suci dan Bait Allah tersergam sanggam, dan karya instalasi buah peradaban agung berbagai-bagai: bisa melindungimu dan tempatku berlindung, tapi karena cara kita yang bermusuhan dalam memuliakannya dapat pula menghancurkan kita. Padahal, semua unsur semestinya bergerak untuk melayani Satu Keutuhan, bukan?
[Terkadang, ketika agama dan kekuasaan menaiki kereta yang sama, angin badai selalu menerjang!]
Selalu kita merujuk persoalan pada lembaran Kitab Suci masing-masing, padahal persoalan-persoalan itu sejatinya urusan hati kita yang tamak semata serta licik penuh intrik dan sarat konspirasi. Dan lagi, sebesar apapun tubuhmu, Kawan [tubuh kita], remote-nya adalah hati yang cuma sekepal tangan itu, organ kecil yang mendrive kehidupan, termasuk terhadap Tuhan.
Berabad-abad tanah ini melahirkan agama-agama samawi, tempat suci yang sakral dan berbagai karya peradaban gemilang. Tapi kini, jazirah itu memuntahkan banyak persoalan, hamparan yang terus membatukkan derita dan selalu membersinkan sigau – jangan mendekat ke sana, sebab virusnya paling tidak dapat membuatmu influenza! Lalu aku bertanya, siapa yang mesti bertangung-jawab ketika jazirah para nabi berlumur darah dan airmata?
Mulai dari era para nabi sampai masa Kesultanan Ottoman, Perang Salib dan zaman modern: di jazirah ini berbagai umat saling memusuh berganti-ganti. Berdendam-dendam tak sudah-sudah. Padahal, membenci seperti yang dilakukan musuhmu, berarti kau kalah darinya – apapun alasan. Dan, dendam tidak pernah menyelesaikan persoalan, Kawan!
Memang, kita hanyalah pemain sekaligus korban dalam deru-deram zaman yang terus berubah. Selain Sang Maha Abadi, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Tidak siap berubah, itulah musuh zaman. Orang yang takut perubahan, itulah para penggamang.
Di tangan penguasa penggamang, agama – bahkan Tuhan — jadi banyak meminta, pemaksa, bahkan pencemburu. Padahal, agama dan Tuhan sangat dibutuhkan dalam dunia yang kian pelik sebagai pembebas dari rasa khawatir, pelindung dari rasa takut, dan pembimbing di masa gamang. Tapi yang terjadi di jazirah para nabi, rasa khawatir memiuh hati, ketakutan memilin jiwa, kegamangan meremang kuduk dan airmata menyimbah ratap.
Betapa politik, kepentingan, kekuasaan dan ketamakan manusia telah menjadi virus yang berpusu-pusu menyuruk masuk ke pembuluh agama, meng-kuda-troya-kan agama-agama. Paling tidak, susah membedakan persoalan politik dan domain agama dalam silang-sengkarut yang terjadi sepanjang jazirah berzaman-zaman.
Bulir airmata dan darah yang bersepah telah men-dawat dan me-ninta lalu menoreh lara di jazirah para nabi. Dari dulu sampai sekarang darah tumpah dan airmata berderai. Kekuasaan dan agama: yang mana satu mesti dipersalah?
Demi kekuasaan, agama telah di-atasnama-kan dan Tuhan di-berpihak-kan. Padahal Aku dan Kau sama-sama berdoa pada Yang Satu, mengadukan persoalan yang sama dengan pinta yang sama pada Yang Satu: mohon perlindungan dan keselamatan. Tapi mengapa darah masih bersepah dan airmata terus bersimbah di antara kita yang sama memohon perlindungan dan keselamatan? Di manakah Tuhan saat Dia dibutuhkan?
Ketika kekuasaan dan agama di-serumah-kan, jazirah permai menjadi sansai, padang gembala jadi gurun pembantaian. Ketika Tuhan di-berpihak-kan, persamaan jadi mubazir, kearifan menjadi pandir. Ketika kita memaksakan kacamata kita untuk menghakimi nilai di luar diri kita, semua tampak seperti musuh.
Ketika umat sebuah agama kehilangan feminisme [kelembutan, hanif] terhadap umat agama lain, saat itulah humanisme terkapar dan pluralisme menggelepar. Padahal, agama hadir mengusung humanisme, pluralisme, emansipasif, bahkan rahmatan lil alamin.
Paradoks keberagamaan bukan cerita baru sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Dengan alasan penyebaran agama misalnya, terjadi ekspansi teritorial yang, diakui atau tidak, membuka ruang dan peluang pada penistaan kemanusiaan, karena ianya – ekspansif itu – beda tipis dengan perebutan atau penaklukan wilayah. Dalam memperebutkan Kota Suci Yerussalem, misalnya, Perang Salib telah menumbangkan korban jiwa tak terkira. Dan sebelum itu, penaklukan Asia Kecil dari Byzantium oleh Ottoman juga demikian. Dan sebelumnya lagi, upaya penegakan agama samawi di Eropa, jutaan manusia penganut paganisme [agama lokal Eropa] telah binasa. Begitu jugalah yang terjadi di era modern: ribuan manusia terpungkang roket, terperangkap ranjau, dikecai bom, dihantam tank, dilanggar peluru. Memang bukan perang agama, tapi siapa yang dapat membuktikan bahwa agama dan Tuhan tidak dibawa-bawa?
Dalam banyak kejadian, Tuhan sering dihadirkan sebagai pembenar atas tindakan-tindakan kekerasan. Radikalisme atas nama agama. Pemahaman keagamaan dan ketuhanan yang benar menjadi barang mewah. Di sepanjang jazirah para nabi, sejarah kekerasan selalu berulang.
Saudaraku, mengarifi sejarah bukanlah barang mewah. Mari belajar dari kisah yang terhampar di jazirah para nabi. Di atas semua itu, ajaran para nabi yang lahir di jazirah itu, mari imani dan jadikan pedoman hidup dan amalan. Sementara temperamental pemberang dan peradang khas padang pasir yang selalu menodai sejarah perjalanan agama, mari buang ke longkang, jangan biarkan menjejak pertiwi.
Mari mencintai untuk jaya bersama, tua bersama, rukun dan damai bersama. Aku dan Kau – apapun agama yang dianut — hidup berdamping membangun negeri. Percayalah, embun optimis layak merona di dedaun hijau sebentang khatulistiwa. Longgarkan buhul-jemarimu yang mengepal dan turunkan intonasi suaramu yang meninggi serta redakan emosimu yang membuncah. Mari berpeluk-genggam dalam cinta dan kasih – apapun agama yang dipeluk. Bersatu dalam ilahi, tanpa mempersoalkan bagai mana lidah kita melafaskan-Nya, dan dengan kata apa kita menamai-Nya.
Berubahlah…! ***
Sastrawan, Bermastautin di Batam
Sumber: Batam Pos, Ahad 25 Januari (seligi) http://www.batampos.co.id
Friday, December 26, 2008
Missing to be on air
But, I understand that I have to patient. I know that I am lucky woman. When I am back to Pekanbaru next July, I will join back to my company. The CEO of Riau Pos Group, Mr Rida K Liamsi has offered me a chance to come back to the Riau Television.
Tuesday, December 23, 2008
Jangan anggap remeh kesemutan
Jangan pernah menganggap remeh kesemutan. Kesemutan pada waktu lama akan berdampak buruk terhadap kesehatan anda. (la iyalah.....) he he. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidup saya kesemutan terus menerus sampai satu minggu. Paling-paling sebelumnya kalau kesemutan hanya jika salah tidur karena posisi tangan yang salah, dijepit di paha atau menelungkup. Namun kesemutan yang saya alami seminggu terakhir adalah cedera akibat melakukan pekerjaan fisik secara berulang-ulang sehingga menyebabkan trauma fisik.
Nah, bagi anda para ibu rumah tangga, jangan menganggap remeh jika tangan anda kesemutan dalam waktu lama. Pekerjaan seperti memeras pakaian, mengulek sambal atau sifatnya menekuk pergelangan tangan secara terus menerus padahal tak biasa melakukan pekerjaan itu bisa menyebabkan terjepitnya saraf medianus. Di pergelangan tangan manusia ada semacam lekukan tempat melintasnya saraf ke telapak tangan, disebut saraf karpal. Di dalamnya ada saraf dan pembuluh darah. Jika sarafnya terjepit di dalam terowongan karpal inilah yang menyebabkan kesemutan pada seluruh jari kecuali kelingking. Penyakit ini disebut Carpal Tunnel Syndrome (sindrom terowongan karpal).
Pada awalnya saya menganggap remeh kesemutan yang terjadi pada tangan kanan saya. Namun setelah satu minggu, saya mulai khawatir kalau ada masalah dengan kesehatan saya. Saya pun bertanya ke ‘’mbah google’’ di internet (saya dapat istilah ini dari bang Ade Adran Sahlan). Ternyata ada banyak hal yang bisa memicu kesemutan antara lain; tumor jinak akibat desakan kelenjer, kecelakaan, diabetes, hipotiroid, dll. Tidak hanya itu orang yang pekerjaannya banyak menggunakan gerakan pergelangan tangan seperti operator komputer dengan posisi mouse yang salah juga beresiko mengalami penyakit ini. Alamak, perasaan saya mulai bermain-main, jangan-jangan ada tumor dalam tubuh saya, atau saya kena penyakit ini, itu. Wah, dari pada repot dengan perasaan saya sendiri, padahal saya tidak mempunyai ilmu sama sekali di bidang itu(kedokteran), sayapun membuat janji untuk konsultasi dengan dokter. Di sini (Australia) untuk kasus yang tidak emergency kita harus buat janji dulu dengan dokter. Paling cepat jika kita mendaftarnya hari ini, besok baru bisa bertemu dengan dokter. Saya jadi ingat, kalau di pekanbaru, buat janji dengan dokter ‘’tak pakai lama’’, asalkan mau mengantri. Di sini mengantrinya di rumah sendiri, bukan di rumah sakit. Jadi kita sudah tahu jam berapa mesti datang sesuai dengan urutan antri. (Bingungkan? Saya juga bingung)
Tibalah saatnya saya bertemu dengan dokter. Dokter Jones namanya. Orangnya ramah dan memberi waktu seluas-luasnya kepada saya untuk berkonsultasi. Saya jadi ingat (untuk kedua kalinya), dulu ketika saya membawa anak saya ke salah satu rumah sakit swasta di pekanbaru, dokternya buru-buru sewaktu berkonsultasi. Jika saya masih tanya ini dan itu, dokter gelisah dan langsung bilang, ‘’60 ribu’’. Oh my godness!
Dokter Jones, sebelum saya berdiri dan pamit, akan terus menerangkan setiap pertanyaan yang saya ajukan. Alhasil, dokter menyarankan saya untuk memakai penyangga dan memastikan apakah penyangga itu tersedia di apotik terdekat dengan klinik itu dengan menelepon pegawai apotik. Setiap resep yang diberikan dipastikan apakah tersedia di apotik terdekat, jika tidak dokter akan mencari jalan keluar. Saya jadi ingat(untuk ketiga kalinya), sampai tengah malam mencari obat untuk ponakan saya dari resep dokter di salah satu rumah sakit swasta di pekanbaru. Hampir seluruh apotik saya jalani waktu itu, ternyata obatnya tak tersedia. Lalu saya bertanya, untuk apa resep ini?
Untung bagi saya, penyangga untuk tangan kanan saya tersedia di apotik terdekat dengan hanya berjalan kaki sekitar 4 menit. Disamping penyangga dokter juga memberikan vitamin untuk saraf dan penghilang rasa sakit. Hari terus berlalu. Kini tangan kanan saya memakai penyangga. Dokter juga memberikan saya surat izin istirahat kerja selama 7 hari. ‘’Kesemutan oh kesemutan, kenapa jadi begini.’’ Hukkk hukkk hukkkk’’
Tuesday, December 9, 2008
Zia's funny strories
Cerita 1. A lion king and a snake
Cerita2. A robot an people
hahahha
Monday, November 24, 2008
Sekilas Western Australia
Luas daratan yang masif ini membuat kepadatan penduduk kurang dari satu orang per kilometer persegi. Bandingkan dengan Pulau Jawa yang luasnya seperduapuluh WA dan kepadatan penduduk 980 orang per per kilometer persegi.
Perth dan Fremantle adalah kota-kota utama di WA. Perth adalah ibukota negara bagian (state). Kota ini bersih, indah dan aman, dengan bangunan-bangunan yang memadukan artitektur kuno dan modern. Sedangkan Fremantle adalah kota pelabuhan yang tidak bisa dipisahkan dari Perth. Fremantle juga dipenuhi bangunan-bangunan tua khas negara barat. Di kota kecil ini anda dapat menemukan banyak tempat bersantai sambil minum kopi di trotoar atau meresapi lezatnya fish 'n chips (ikan dan kentang goreng) atau makanan sea food di pinggir laut.
Kedua kota tersebut memiliki reputasi gemilang sebagai tujuan wisata dan tempat hidup - antara lain karena keindahan, keamanan, ketertiban, kebersihan, dan keramahan penduduknya. Perth misalnya, menempati ranking 21 kota terbaik untuk hidup di dunia (menurut Mercer Consulting). Namun demikian, reputasi kedua kota tersebut belum mampu membuat mereka sebagai tujuan wisata utama di WA.
State ini dianugerahi banyak lokasi tujuan wisata. Selain wisata kota, sungai dan pantai di Perth dan Fremantle, tujuan wisata utama kebanyakan berada jauh dari kota-kota besar. Mereka menawarkan eksotisme pemandangan pegunungan, pantai, dan kawasan pedalaman untuk anda. Di WA, kawasan pedalaman disebut Outback. Outback inilah sesungguhnya tujuan wisata utama di WA.
...to be continued...
Sunday, October 19, 2008
Zia memanggul jangkar
Monday, October 6, 2008
Gurun Pinnacles Western Australia
Foto: discoverwest
Foto: kunaifiPinnacle Desert adalah bagian dari Nambung National Park. Menurut Department of Environment and Conservation WA (DECWA), taman nasional seluas lebih 17 ribu hektar ini juga meliputi pantai, dan hutan pohon Tuart yang rindang. Pada bulan Agustus hingga Oktober (musim semi), di hutan Tuart bunga-bunga mekar. Kombinasi kuning, merah dan hijau menyuguhkan pemandangan yang tak mudah anda lupakan. Jika beruntung, anda akan bertemu dengan kawanan emu dan kangguru liar di sini dan ‘bercengkrama’ dengan mereka.
Nama Nambung diberikan oleh penduduk asli setempat (masyarakat Aborigin). Awalnya mereka memberi nama Nambung pada sebuah sungai di kawasan tersebut. Nama sungai ini kemudian dipakai menjadi nama taman nasional tersebut. Dalam bahasa Aborigin, Nambung berarti “dibengkokkan” atau “dipelintir.”
Menurut DECWA, orang Eropa telah memasukkan Pinnacles Desert ke dalam peta sekitar tahun 1658. Namun hingga akhir 1960-an, Pinnacle Desert relatif tidak dikenal, sampai saat the Department of Lands and Surveys negara bagian WA menjadikan kawasan ini sebagai taman nasional. Kini, sekitar 150 ribu pengunjung mendatangi Pinnacles Desert setiap tahun.
Masih menurut DECWA, batu-batu kapur Pinnacles terbentuk secara alamiah. Asal mulanya adalah dari kerang laut pada masa ketika laut sangat kaya dengan kehidupan laut. Melalui proses ribuan tahun, kerang laut pecah menjadi pasir yang kaya kandungan kapur. Pasir kapur ini lalu hanyut bersama ombak ke daratan, ditiup angin dan membentuk bukit pasir yang tinggi dan berpindah-pindah. Jika musim dingin (winter) tiba dan frekuensi hujan tinggi, unsur asam pada hujan melarutkan Kalsium Karbonat yang kemudian meresap ke dalam pasir. Saat bukit pasir mengalami kekeringan di musim panas (summer), komposisi tersebut mengendap membentuk sejenis semen, bercampur dengan pasir, dan secara perlahan membentuk batuan kapur. Gurun pasir lama-kelamaan menjadi tipis akibat dikikis air dan angin. Bagian-bagian yang lebih keras bertahan, meninggalkan Pinnacles alias pilar-pilar batu. Pembentukan Pinnacles adalah proses ribuan tahun. Sekitar enam ribu tahun lalu, temuan arkeologi membuktikan bahwa kawasan ini pernah menjadi pemukiman suku Aborigin.
Pemerintah WA mengelola Pinnacle Desert dengan baik. Berbagai fasilitas umum dibangun seperti toko souvenir, toilet, tempat parkir dan sebagainya. Sentuhan modern pada fasilitas umum dengan konsep sustainable alias ramah lingkungan pun diberikan. Bangunan-bangunan dirancang dengan konsep "passive solar design" (menggunakan sinar matahari untuk menghangatkan/mendinginkan ruangan). Energi surya juga dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Bahkan, teknologi pengelolaan dan daur ulang air pun dibangun di sini..
Perjalanan ke Pinnacle tidak kalah seru. Dengan jarak sekitar 250 km dari Perth, perjalanan anda akan memakan waktu sekitar tiga jam. Tapi jangan khawatir menjadi bosan, sebab anda akan mulai merasa berwisata saat perjalanan dimulai. Jalan-jalan mulus membuat anda nyaman duduk di dalam kendaraan. Saat meninggalkan Perth, anda merasakan kota semakin sepi. Namun bentuk rumah-rumah penduduk tidak berubah; khas Australia, beratap dan berpagar agak rendah dengan garasi ukuran besar dan dinding berpola batubata tanpa plaster.
Salah satu tipe umum rumah di Australia (Foto: pushpullbar)
Semakin jauh meninggalkan kota anda semakin dalam memasuki outback. Dari dalam kendaraan anda akan menyaksikan hamparan lanskap khas Australia, terdiri dari semak-semak (bush), padang-padang rumput, lembah, bukit-bukit kecil, juga danau-danau indah. Di beberapa tempat terdapat perkebunan Lavender. Bunga yang sering dijadikan bahan-baku produk kecantikan tersebut memiliki warna putih bercampur ungu, kontras dengan hijaunya padang rumput di sekelilingnya. Paduan warni ini memberi anda kesan damai, juga romantis.
Anda juga akan menemukan puluhan peternakan sapi, domba, dan kuda sepanjang jalan. Gampang mengetahui lokasi peternakan. Biasanya ditandai dengan padang rumput luas, tapi bersih. Di tengahnya terdapat rumah pemilik peternakan (farmer), lengkap dengan gudang peralatan. Peternak domba biasanya memiliki beberapa kuda dan anjing. Bersama kuda Australia yang terkenal kuat dan besar dan dibantu anjing-anjing terlatih, farmer dengan mudah menggiring ratusan domba menuju kandangnya. Secara berkala, bulu-bulu domba dicukur, lalu dijual. Oleh pabrik, bulu domba dijadikan pakaian berkualitas tinggi. Dengan cara demikian, farmer dapat hidup makmur.
Sebuah peternakan domba di Western Australia (Foto: fmft)
Satu lagi pemandangan menarik menuju Pinnacle, yaitu Emu Downs Wind Farm (EDWF). EDWF adalah pembangkit listrik tenaga angin skala besar yang mulai beroperasi 2006. Menurut Griffin Energy, pemilik Emu Downs, wind farm miliknya adalah nomor dua terbesar di Western Australia setelah Albany Wind Farm, dan nomor empat di Australia. Bersama Stanwell Corp. wind farm ini menghabiskan A$180 juta (sekitar 1,3 Triliun Rupiah). Dengan kapasitas 80 MW, turbin-turbin setinggi 70 meter itu mampu menghasilkan listrik untuk sekitar 62.000 rumah. Bandingkan dengan PLTA Koto Panjang yang memiliki kapasitas 114 MW, dan biaya sekitar 2,8 Triliun (Sumber: iselantang). Listrik yang dihasilkan EDWF dibeli Synergy, perusahan retail listrik milik pemerintah WA. Sebagian besar digunakan mengoperasikan instalasi penyulingan air laut terbesar di WA.
Emu Downs Wind Farm, Western Australia (Foto: puregreen)
Setelah cukup penat menempuh perjalanan dan dilanjutkan dengan mengarungi gurun Pinnacles, anda dapat rehat di Jurien Bay, sebuah pantai koral yang terletak tidak jauh dari sana. Jika suka berenang dan memancing, anda bisa lakukan di Jurien Bay. Siapa tahu anda pulang membawa Rock Lobster raksasa khas Jurien Bay.
Jalan-jalan ke Pinnacle Dessert bukan hanya menyaksikan keajaiban geologi, tapi juga membawa anda ke masa lalu sekaligus ke tempat yang "asing." Satu tips yang tidak boleh anda lupakan saat merencanakan kunjungan ke Pinnacle Dessert, jangan datang di musim panas dan dingin. Jika lupa, anda akan terpanggang matahari atau beku di luar sana. Outback bukan tempat yang ramah jika anda datang di musim yang salah.
Untuk melihat lebih banyak foto-foto di Pinnacle Dessert, silahkan klik di sini dan sini.
Wednesday, July 23, 2008
Tuesday, July 8, 2008
Karya Terserak


Masih banyak buku-buku penulis di tanah air yang saya temukan di pustaka Universitas Murdoch yang terletak di westeren Australia ini. Tentu saja tak bisa saya sebutkan satu persatu. Betapa dunia yang luas ini begitu berkompromi. Karya-karya tulis terserak kemana-mana. Kadang siempunya karya belum sampai, sedang karyanya sudah sampai. Ah, indahnya menulis! So, selamat menulis untuk semua. Well done!
foto: courtesy raudah :http://mraudahjambak.blogspot.comMonday, June 23, 2008
Musim di benak Ulan
Dengan sendirinya akan berotasi; musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. Musim panas akan berganti dengan musim gugur yang bertugas menggugurkan dedaunan dan bebungaan. Setelah itu udara akan berubah ke skala agak dingin, seakan hendak melatih mahluk di dalamnya untuk bisa bertahan di musim berikutnya yaitu musim dingin. Selanjutnya suhu benar-benar dingin, membekukan dedaunan dan bebungaan, manusia saja bila tidak berikhtiar memakai baju penghangat yang disebut mantel atau jaket tebalpun bisa beku. Seterusnya secara perlahan udara yang dingin akan semakin berkurang. ‘’Sabar sajalah wahai pepohonan, daun-daunmu akan tumbuh sempurna di musim semi nanti. Musim yang kunanti. Masa bebunga merekah dan dedaunan menghijau’’. Ulan berbisik sambil melihat ilalang yang bergoyang.
Di musim dingin dengan dedaunan dan bebungaan yang masih malu-malu, Ulan menelisik jenis pepohonan. Kebanyakan akasia dan palm. Akasia tentu saja banyak di kampung halamannya. Sedangkan palm di sini adalah palm taman, bukan palm oil atau kelapa sawit. Kenapa setiap melihat palm, Ulan selalu ingat palm oil yang selalu dilihatnya di kanan dan kiri jalan dalam perjalanan menuju kampung halamannya. Kelapa sawit, yang meluluhlantakan hutan, mengeringkan lahan dan menghisap humus tanah. Tidak hanya itu, setiap hari truk-truk melebihi tonase akan mengangkut jutaan tandan kelapa wasit yang menghancurkan jalan-jalan. Lobang-lobang menganga di sepanjang jalan, seperti ngangaan luka di hati para warga di sekitarnya karena mereka hanya bisa menjadi buruh-buruh kebun. Hidup mereka tak berubah dari tahun ke tahun. Setiap waktu sawit disuling menghasilkan berton-ton minyak, sedang mereka masih kesulitan untuk bertanak. Tak salah jika penyair Aris Abeba mengutipnya dalam puisinya, kira-kira begini kutipannya:
Tinggal sebotol minyak untuk bertanak
Sedangkan negeri ini negeri minyak
Remuk redam rasanya dada Ulan bila mengingat hutan yang tinggal sejemput di kampung halamannya. Kembali ia memandang musim, dingin masih menusuk. Burung gagak masih mengoak-ngoak. Tak ada reranting yang patah di sini. Pun hutan di jejauhan sana tersergam lebat. Seekor burung kecil dengan ekor panjang yang bergoyang-bergoyang mematuk ujung sepatunya. Ada sebiji jagung di situ. Dia tak tahu apa nama burung itu. Sangat banyak burung-burung yang hidup leluasa di kota itu. Tak ada yang mengganggu. Burung-burung berterbangan leluasa. Ulan beku dalam cuaca. (bersambung)
Sunday, June 8, 2008
Kisah Laptop basah
Aku tahu jika dia baca tulisan ini tak akan bisa marah, karena selain sahabat kami juga saudara satu rahim dalam sebuah pementasan teater bertajuk‘’Masih ada kamar di tepi rel’’. Dulu ketika aku masih imut-imut dan ramon amit-amit. Kami juga pernah tampil berdua sebagai MC. Di panggung kami tampak kompak, tapi jangan salah dulu. Di belakang layar kami tak pernah akur.
Akan halnya kisahku begini ceritanya. Di suatu siang yang garang, anakku Zia sedang minum air putih. Tanpa sengaja botol minumannya jatuh persis di atas laptop ayahnya yang sedang menyala. Sang pejantan gagah yang baru 3 tahun melihat dunia itupun berkata, ‘’maaf ya, sorry, tak sengaja. Suerrrrrrrrr!’’ grrrrrrrrrrrrrrr...... airpun merembes cepat. Laptop itu menggelepar dan langsung terkapar. Apa daya, suamiku yang nyaris tak pernah marah itu hanya bisa menatap laptop kesayangannya tak berdaya. Punah ranah, basah dan kalah.
Masih menyimpan harapan, suamiku menjauhkan botol minuman air putih zia dan meraih laptopnya. Di bawah sinar matahari laptop itu dijemur, namun layarnya sudah kabur. Aku menyaksikan laptop itu dengan mata nanar. Sepertinya tak ada harapan bisa dipakai lagi. Dan, ternyata perkiraanku benar. Laptop itu tinggal kenangan.
Apakah kisah laptop basah ini juga berkaitkelindan denganku? Jawabnya, seratus persen ada. Aku tak bisa lagi menulis dan membaca secara leluasa. Aku mesti rela berbagi, meminjamkan laptopku kepada suami yang akan menghadapi ujian semester dan tak lama lagi akan masuk ke program master. Akupun tak bisa otoriter. Tak bisa lagi berjam-jam di depan komputer.
Aku selalu mengintai kapan suamiku tak di depan laptop. Namun pengintaianku selalu saja berujung penantian. sepertinya dia belajar seharian. Akhirnya aku berpikir. Akh dari pada berebutan, lebih baik aku yang mengalah. Akupun memilih pergi ke perpustakaan dan menjadikan buku kecil sebagai coret-coretan. Kebiasaan ini kujalani sudah hampir satu bulan.
Tidak hanya selesai di situ, efek laptop basah juga merembet ke rencana libur musim panas Desember mendatang yang terancam gagal. Berkemah ke gurun kemungkinan besar ditunda. Dananya akan dialihkan untuk membeli laptop pengganti. Padahal aku sudah membocorkan rencana ke gurun ke saudaraku samson rambah pasir yang senang gurun itu. Tapi tak apa. Begitulah romantika berumah tangga. Semua mesti dijaga. Tak boleh menurutkan kehendak diri sahaja. Viva Zia!
Thursday, June 5, 2008
Mencari sayap Rumi
Hari ini aku kembali belajar dari puisi. Jika ada golongan orang yang mencari ilmu dari puisi, termasuklah aku pada golongan ini. Hampir setiap hari belajar dari puisi. Bisa puisi dari para penyair-penyair dulu dan kini, atau puisi-puisi yang tersangkut di pohonan, hinggap di debu jalanan pun di bayang-bayang hari dan keremangan malam. Juga puisi yang kesepian menahan gigil di dingin malam atau puisi yang tersesat di bawah kepak malam yang hitam.
Kembali menelisik puisi Jalaludin Rumi. Penyair yang terbiasa berdepan-depanan dengan kata-kata yang absurd dan sufi. Entah dimana dia dapatkan kata-kata itu. Mengalir dan meluai indah di nadi. Gelar master puisi sufi memang tepat untuknya.
Adakah balkh, Afganistan tempat ia dilahirkan tahun 1207 lalu disentuhnya dalam puisi? Itu pertanyaan yang sudah sejak lama. Ketika membuka-buka internet, kubaca biografi singkat tentang Rumi. Tulisan yang berjudul Biography of Rumi yang ditulis Richard Pettinger itu saya terjemahkan seperti di bawah ini.
Jalaludin Rumi. Dilahirkan di pantai barat kerajaan Persia, kemudian menetap di Kenya, yang kita kenal Turki saat ini. Rumi yang tumbuh dan dibesarkan dalam pergolakan sosial dan politik yang luar biasa dimasa invasi besar-besaran Mongolia sangat berpengaruh terhadap puisi-puisinya. Begitu juga puisi-puisinya yang bercerita tentang tuhan, cinta dan kehidupan. Tentu saja terpengaruh dari jalan hidupnya yang memilih menyayangi tuhan, sesama dan kehidupan. Puisi-puisi Rumi mengandung apresiasi yang sangat luas, menyentuh kesadaran kita, membangunkan kita tentang sebuah kesadaran spritual dalam diri kita masing-masing.
Majalah sastra Horison edisi Desember 2007, membahas panjang tentang kepenyairan Jalaludin Rumi. Dalam kupasan panjangnya, Jamal D rahman mengatakan Rumi adalah duta cinta sepanjang masa, mempunyai jiwa pengembara dan sosok pencari jalan spritual yang tak pernah berhenti.
Masih mencari jawaban tentang pengaruh tanah kelahiran Rumi terhadap puisi-puisinya, Jamal D Rahman menyebutkan ada puisi Rumi yang tak pernah jauh dengan kota kelahirannya yang diluluhlantakkan pasukan Mongol. Balkh, juga kota-kota Persia terkenal lainnya seperti Bukhara dan Samarkand tetap menjadi kenangan di hati penyair sufi itu. Seperti sebait puisi Rumi yang dikutip Jamal D Rahman dalam tulisannya, seperti di bawah ini.
Mari ke rumahku, kekasih-sebentar saja!
Gelorakan jiwa kita, Kekasih- sebentar saja!
Dari Konya pancarkan cahaya Cinta
Ke Samarkand dan Bukhara-sebentar saja!
Saya tercenung membaca kalimat yang ditulis Jamal D Rahman tentang puisi itu yang saya kutip seperti berikut ini. ‘’Tetapi Rumi dilahirkan memang tidak untuk merebut kembali kota kelahirannya dan membangunnya kembali dari kehancuran. Dia meninggalkan kota kelahirannya dengan membawa biru apinya yang terus menyala-nyala dalam hatinya……………’’
Masih dari majalah sastra Horison edisi Desember 2007. ‘’Menunggu Rumi Setiap Hari’’ judul tulisan Joni Ariadinata yang membangun imajinasi ‘’liar’’ tentang Rumi, dikaitkan dengan beribu kisah saat ini yang ditumpangkannya lewat siaran televisi. Ada dangdut mania, pemanasan global yang runutnya ke banjir yang menewaskan ratusan orang, hiruk pikuk kota, pembantaian 600 ribu rakyat Irak dan banyak lagi kisah. Saya menangkap dari tulisan Joni Ariadinata, betapa sebenarnya ‘’kita’’ setiap hari ‘’menunggu Rumi’’!
Masih di hari ini, sekedar melepas lelah usai mengantar anak sekolah, di tengah rutinitas kerja dan mengabdi pada suami, kembali kupelototi kata-kata dalam puisi Rumi.
Ha!, aku jadi lupa diri. Menerjemahkan sajaknya yang bersayap. Sayapnya mengepak-ngepak mencari tuhan, cinta dan segala sebab. Akupun menggelapar seperti burung yang patah sayap. Sungguh, ingin aku meminjam sayapmu itu Rumi. Aku ingin buat puisi.
…….pinjami aku sayapmu Rumi
di antara puing waktu yang berlari
mari kita saling berbagi…..








