Monday, January 19, 2009
Surat buat Aesya
namun
asap hitam dan peluru
masih lekat pekat di tanahmu
pun air mata darah
kini tumpah
luah jadi nanah
namun
perang tak jua sudah
Aesya Layla,
tulipe yang sempat kau kirim
masih merekah di dada
tetap merah
semerah darah ratusan ayah
yang gugur membela marwah
semerah darah ratusan kanak
yang lepas dari pelukan ibu
semerah darah ratusan ibu
yang ditangkup segunung pilu
Aesya Layla,
tunggu aku di gerbang gaza!
Perth, 19 Januari 2009
Thursday, January 1, 2009
tasbih kembang api
sayap malam sibak diamku yang kelam
tikam jantung pedih sembilu
wahai,
jangan tebas tasbih raguku
galau hijriah luncaslah pergi
masuki detik dengan bismillah
kucium aroma daun kemangi
yang kau sisip di pinggang matahari
fajar alaf baru menyapaku
wahai, alangkah aduhai
semoga hidup jauh dari sansai
‘’jangan terlena warna-warni kembang api
perciknya hanya sebatas fatamorgana’’
hujahmu di pelataran malam yang diam
namun kumau hidupku bagai kembang api
memercik indah bak pelangi
hingga tak ada lagi api
baranya hinggap ke palung sunyi
ah, sudahlah
jangan bertengkar lagi
tahun lalu sudah lewat
mari kita bersiap sigap
sebentar lagi kapal akan melempar sauh
perjalanan masih jauh
Perth, penghujung tahun
Saturday, September 6, 2008
ranum ramadhan
ranummu ramadhan
kuinginkan jatuh di putik rinduku
rupawan dalam genggaman
tasbihku:
‘’ramadhan jangan enggan berkawan
bawa aku dalam nikmat tak terlawan’’
Wednesday, August 13, 2008
pucuk pagi berselimut salju
di pucuk pagi berselimut salju
aku rindu pada embun
bergelayut di rimbun daun
menimbun diri
di wewangian hijau
maung kampung tercium di rantau
kusuruk risau di ketiak bumi
seksofonmu mengajakku menari
dengan gegerak kaki setengah berlari
tiba-tiba dari sunyi yang tercurah
di pucuk dedaunan yang gerah
menyembul harap yang tersurah
dalam kitab-kitab purba merekah
huruf-huruf ajaib mendesah
aku teringat kisah sang petapa
ketika takut menusuk
dia berikan senyum terindah
di goa-goa basah
pun ketika maut menjemput
ragu dan nestapa luput
hanya ada jejak kaki
mengarak pergi
Perth, Agustus 2008
(masih ada bait yang tersembunyi)
Monday, July 28, 2008
Sebelum Hujan di Musim Panas
puisi Reiner Maria Rilke
Tiba-tiba, dari semua hijau di sekitarmu
Sesuatu yang kau tak tahu, hilang
Kau rasakan ia merayau di dekat jendela,
Di puncak sepi. Di pinggir hutan
Kau dengar siualan nyaring burung plover
Mengingatkanmu akan seseorang di Saint Jerome:
Begitu banyak sunyi dan ingin yang datang
Dari sebuah suara
Tercurahlah sebuah keinginan yang kuat
Tembok dengan lukisan purba,
Meluncur, menjauh, begitu jauh
Seakan-akan mereka tak ingin mendengar apa yang kita katakan
Terpantul ke permadani-permadani kusam: dingin
Waktu suram yang panjang di masa kecil memancarkan cahaya buram
Ketika kau begitu takut
Translated by Murparsaulian dari Before Summer Rain
Menyebut nama Reiner Maria Rilke saya selalu teringat maha guru saya Hasan Junus. Opung HJ, begitu sapaan renyah saya pada sosok jenius yang telah merambah dunia sastra seantero dunia itu. Opung HJ lah yang memperkenalkan saya dengan karya-karya sastra dunia termasuk Reiner Marie Rilke. Beberapa hari ini saya rindu berdiskusi dengan opung HJ sang paus sastra itu. Untuk mengobati haus diskusi saya, saya menelisik beberapa puisi Reiner Maria Rilke, penyair berdarah Jerman itu. Salah satunya berjudul Before Summer Rain yang saya terjemahkan dalam bahasa sastra saya yang masih amat sederhana. Puisi ini diterjemahkan oleh Stephen Mitchell dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris. Bisa diakses di http://www.geocities.com/paris/leftbank/4027/
Wednesday, July 16, 2008
sedanau tembusu
aku pagi, katamu
akulah malam yang menikam
hujahku di belantara kata benakmu
yang remuk redam dalam diam
siangkan aku dalam hari tanpa mentari
pintamu yang tak bisa kulunasi
lalu pergimu
jadi duri
dalam cambuk waktu
terus melecut diri
sedanau apakah dalam dukamu
adakah sesampai lambai
yang sangsai di bilur taumu yang ragu?
(to be continued)
Perth, 15 Juli 2008
Thursday, June 26, 2008
sesidik jemari lelaba biru
sidik jemariku tersangkut
di bebatuan berkabut
seperti cengkaraman elang
tak lekang walau dipanggang
matahari garang
pepasiran bertaburan
kutulis rindu di butirmu
lugu dalam waktu bertalu
ah laba-laba biru
menenun sarang di dadaku
(to be continued)
Perth, Juni 2008
Thursday, June 19, 2008
kafe dan sayap rumi
di sebuah kafe yang jauh dari gerah
sekedar melepas lelah
kulihat sayap rumi jatuh ke tanah
kutangkap dan kujamah
hingga hati tak hendak sudah
melangkah
didera dingin yang pekat
kuhirup capucino isi coklat
sayap rumi masih kupeluk ketat
sayang aroma senja sudah dekat
langkah mesti kupercepat
aku mesti sampai pukul 6 tepat
di atas dedaunan kering
ditingkahi gemirisik ranting
kaki masih saja berkeliling
mencari sebentuk gemerincing
hanya puing-puing
asing
sayap rumi kini mengembang
sedetik akan terbang
kini sudah di tengah lapang
aku mengambang
ujung kaki masih menginjak ilalang
lalu gamang
hilang
kini senja berganti kelam
langit hitam buram
di atas sayap rumi kutembus malam
di awang-awang
jutaan malaikat sembahyang
(bersambung)
perth, juni 2008
Tuesday, June 17, 2008
kurcaci, bulan dan kucing
kau nujumkan aku dalam waktu tak bertalu
siang dan malam yang mengaquarium
bertubi-tubi tanya menyenak nadi
inikah harap itu?
ah hari yang malang
tak satupun yang dapat kutangkap
tidak juga igau yang terbiar dalam kelam
pun ceracau di terik mentari
beribu kunang yang hinggap di telapak tangan
telah mati sebelum sempat tampakkan diri
zaman yang kalap
marap dalam tanya beribu ragu
aku mengiau dalam risaumu
ingin kujala duka di hatimu
lalu kubuang ke laut lepas
seluncas lepas tebat ke hati
di tubuhmu kucuri kurcaci
menari dalam diri
lalu bulan terbang ke kuping kucing
kucing menjerit bukan karena sakit
tapi karena irit
esok mesti mencakar langit
Perth, april 2008
Sunday, June 15, 2008
bulan duduk di ujung ilalang
aku tak pernah marah pada bulan
walau seribu risau tertulis di keningku
sesalku hanya pada angin yang dingin
betapa ia telah penjarakan aku dalam ingin
tak jua jujur pada malam
walau kelam terus menulis rindu di wajah tirusku
buram dan hitam
pusar angin yang bernyanyi dalam gelap
hilangkan pengap dengan turbin igauku yang pukau
nadanya sangap ditelan waktu
sampai kapan kau gores cerita usang itu
anak-anak yang terbiar dalam diam
mimpi yang tak pernah labuh
sungguh, mereka ingin jaga
namun mata tak hendak buka
katakanlah pada angin
jangan ada lagi dingin
pun ingin yang kini tumpah
basah di celah jari yang basah
juga hendak sudah
‘’kami hanya ingin cerita tentang negeri angin’’
jerit kanak di bawah kincir angin
sepoi yang tak pernah sampai
pun ke batu nisan tetua mereka
‘’hei, ada bulan jatuh’’
sayang
bulanpun tak pernah sampai ke telapak tangan
akh anak-anak yang malang
selalu diterkam zaman yang jalang
dulu ibu-ibu mereka
selalu terusir dari tabir
sebelum sempat harap terucap dari bibir
inikah puak yang selalu dapat cibir
jadi korban mereka yang mangkir
tanah-tanah malang
hanya dijejak padang
pun ilalang
hanya gersang memanjang
kini,
bulan duduk gelisah di ujung ilalang
malam tak jua datang
perth, mei 2008
Friday, June 13, 2008
rindu tak bertabir
: samson rambah pasir
pada punca tanya
kata menapak tawa
masihkah kau simpan jumawa
tentang cerita purba kanak-kanak kita
di bebatuan tak berair
kutulis rindu tak bertabir
seperti air yang mengalir ke hilir
segunung kata terucap dari bibir
mengubin kata di kamus anak-anak pasir
‘’tunggu aku di tengah pasir’’
katamu di suatu siang yang garang
telunjukmu lurus ke arah pancang
tanda, kita membagi cerita dan senda
gurau yang memukau di tengah pulau
gundukan pasir yang mulai rumpang
‘’kita mesti terus berjuang’’, katamu
kalimat itu tertancap di batu
menjelma jadi perahu
kita berkayuh di atasnya
meretas nasib menganyam mimpi
yang kita julang sepanjang hari
setiap pagi kita letakkan di pucuk matahari
asa mencipta tawa
di tengah kemiskinan yang meronta
tak ada air mata
di langit jauh dipuncak malam
segantang bintang sepasang bulan*
kita tengadah memburu imajinasi
untuk puisi sarapan esok pagi
taukah kau kini
pulau pasir itu tak lagi rumpang
namun telah hilang
tak ada lagi pasir di pulau pasir
juga ikan tapah yang membuat bibir berair
hanya sebencah danau yang parau
terus menceracau dalam igau
tak ada yang risau
pun hutan di hulu bak tungau
sekilas tampak namun tak lagi hijau
akh tanah timang-timangan yang kalah
kini hanya mendapat gundah
rinduku padamu dan pulau pasir itu
melaung panjang di semua pintu
lekat di panggung sydney opera house
terpentaskan pada setiap orchestra
tentang beribu cerita
melambai di kemiringan menara pisa
meriak di pucuk ombak pulau cicilia
jadi partitur panjang
terdedah indah di bawah matahari sungai missisipi
tualang kanak-kanak kita
bagai oase di gurun sahara
cahayanya sampai ke bulan
lalu jatuh ke tanah jadi intan
setumpuk kenangan yang tak kan padam
terus berlayar dalam imaji
hingga di ujung waktu yang tak pernah diam
sambut rinduku di tanduk pelangi
catatan
*tajuk kumpulan sajak marhalim zaini
Perth, mei 2008
Tuesday, June 10, 2008
dimakamku bertinta hitam buram,
satu bisikan malam
jika kau berdiri di pinggir makam
ada puisi di tengah hari
garing ditelan batu nisan diri
apakah matiku sebagai manusia
atau lahirku sebagai binatang?
jika kau siram tuba berbulir bintang
di rembang-rembang petang yang malang
kan kau temukan jawaban yang tersangkut di ilalang
kini mawar di ujung makam
terus digerus hujan
sungguh cinta tak bertandan
di bebatu makam yang diam
ada jumawa memberi tanda
gelisah membentang malam
tak sabar di punca tanya
pun di puting mawar di ujung makam
kuketat peluk berpeluh hujan
pada usia yang karib kematian
jatuh, luluh
hei!
jangan kau cabut kematianku yang jalang
perth, mei 2008
Thursday, June 5, 2008
rapsody seorang gadis
rinai hujan di pagi basah
selembab kelam menubal buram
cericit burung tak ada lagi
lepas luncas pergi
adakah waktu kan bergulir pagi ini
sedang mentari ntah dimana sembunyi
semisal igau di kelam malam
aku nak bangkit, namun diselimuti diam
oh tanah yang basah
sebasah kalbu yang membiru
sebiru empedu yang terjepit di pintu
ingin kukuak takut menambah ngilu
kau lah gadis terkurung sepi
mengubur mimpi sepanjang hari
keluhmu luluh ditikam malam
katakan jika kau mencintai malam
mencintai angin yang berdesir perlahan
jangan pernah kau tepis cahaya bulan
sebab bulan akan bawakan surat dari tuhan
katakan pada malam-malam basah
ditelunjukmu ada gurindam yang marah
baranya telah menganak sungai nanah
tikamkan ia ke jantung langit yang gundah
katakan pada pagi-pagi basah
di telapaktanganmu ada syair yang tumpah
alurnya telah menyatu dengan waktu
biarkan kanak-kanak kembali berdenyut di nadimu
katakan pada hari-hari basah
di keningmu ada pantun yang patah
ditimpuk leguh zaman yang lelah
tegakkan dengan mata batinmu yang gagah
segudang kata, sedanau puisi
sebasah negeri ini
hanyut dalam sembilu yang nisbi
Perth, Western Australia, Maret 2008
risaumu di igauku
tanya pada angin yang membadai dalam diri
bila hasratkan sampai
api yang membakar hati
jangan kau sulut jadi benci
beribu kanak menantimu dengan jiwa berseri
pusar waktu yang kau genggam di telapak tangan
lepaskanlah kini
ia akan jadi cemeti
membuhul hari memeram mimpi
kelak menetas jadi tali
yang kau pakai meniti janji
janjimu pada-Nya
janjimu pada kami
doa panjang di malam-malam bisu
diri yang tergugu mencari rindu
harap yang membentang sepanjang jagat
dari arizona sampai missisipi
dari amazon hingga ke nil
sejak dari bali hingga ke delhi
kadang zig zag
horisontal
selalu juga vertikal
sekali-kali berputar-putar bundar
mimpimu tersungkup di gedung-gedung opera megah
ada di sydney opera house
atau di opera dresden,
dan OperaViva di amsterdam
juga di gedung opera munchen
mungkin di venice’s opera house
layak api yang berkibar sepanjang malam
atau mungkin di anjung seni idrus tintin
kadang di teatro dell’opera di roma
partitur-partitur yang tumpah ruah ke kaki menara pisa
dari teatro di pisa
dondang sayang yang kau dendang dari gubuk tua di usia renta
aromanya lekat di sungai rokan
maungnya tercium ke indragiri
nadanya tertancap di kuantan
tergerus di pasir-pasir pesisir
lepas luncas ke setarata benua
namun kini
di puncak risau letihmu sangap
dalam riau yang gundah,
gulana telah mengubin dalam batinmu
mungkinkah dodoi itu sampai ke pucuk rindu
sedang malam kian menjelang
atau jadi orchestra usang?
duhai engkau,
risaumu di igauku
Perth, Pebruari 2008
menyulam negeri mimpi
upsalatta
kau negeri pegunungan salju
bulir-bulirmu dapat kutangkap di rantau ini
pada riau-ku yang menyimpan diam
aku lena dalam luai gerakmu
nadinadiku yang kaku
luruhlah dalam gerak malam yang kelam
merejam seribu mimpi
sentuhlah pianomu
teruslah sepoi dalam diamku
hentaklah dalam yakinku
‘’Claro de Luna’’
makin hantarkan aku dalam tanya tak berjawab
aku seperti melihat Ludwig Van Bethovent, kala menggubah lagu itu
lalu kucipta lirik lagu baru
‘’dark de luna’’
namun ada bias merah jambu, biru, ungu
dan pada akhirnya menjelma kelam
To Be or Not To Be
there goes a jazz tune
aku pun tiba di kota kematian, recoleta
namun tak kucium amis darah
kemana hilangnya aroma nanah!
kembali lagi ke negeri ini
kubawa segudang cinta untukmu
namun kau patahkan dalam debur gemuruh
dengan apa lagi kutimpuk rindu
tikamtikam jantung
sayatsayat sembilu
lihatlah rahimku telah koyak!
seperti kisah dalam mitologi yunani
dirimu adalah dewa janus yang bermuka dua
tahu masa lalu dan masa datang
dewa perang dan perdamaian
lalu dengan apa kan kutangkup marah
di atas amuk mu yang saga
selalu saja begitu
rindu kau balas dengan sembilu
peluh kau bayar dengan tipu
akhirnya aku menyimpan dendam
seperti oudipus yang membunuh ayahnya sendiri
sekali lagi dengan apa hendak kulabuh tanya
yang tak pernah engkau jawab
aku makin dirundung ragu
Sisifus kah dirimu?
menujum janji
mata elang, mata bulan, mata jin, mata hati, matahari-ku,
pejamlah dalam diamku yang angkuh
singgahlah di mata airku yang keruh
senyumlah pada mata tumitku yang rapuh
tikamlah mata bintangku yang redup riuh
rebahlah bersama aku yang kehilangan matamata hatiku, runtuh
telah kukuak mendung di sudut langit
dari balik jeruji hati yang pekat,
oh tak mampu kugapai burungburung yang luncas bersama kepak-kepak sunyi
tubatuba dan beribu tuba sesaki rongga jiwaku yang semula sepi, namun kini sesak
dan aku ingin muntah, puah!
kabar ini cukup membuat resah
dalam bara api jiwaku yang kerontang
beribu matamata kembali terkam, sentak dan hujam cintaku
lalu, aku telan bisu bersama kata-kata janji
pulanglah!
simpan sebaris janji
aku dan rakyatrakyatmu telah letih menyulam sabar
ribuan ronggarongga dada terbakar
terlalu lama kami terbiar dalam sepi, duka dan nestapa
mati,
jenguklah ribuan mayatmayat tak berdosa
kemana hilang rohroh suci yang dititipkan illahi
pada siapa kukirim rindurindu ini
apakah di empeduku yang kian bisu?